Home / Ulumuddin / Fiqh / Pengertian Lengkap Hibah, Umra dan Ruqba

Pengertian Lengkap Hibah, Umra dan Ruqba

Pengertian Lengkap Hibah, Umra dan Ruqba

Hibah merupakan hal yang sudah menjadi lazim dilakukan di masyarakat kita, bahkan pemerintah sering memberikan hibah berupa dana bagi individu atau kelompok masyarakat agar dapat membantu dan menunjang kapasitas ekonomi atau pembangunan infrastuktur ditengah tengah masyarakat. Nah sebenarnya dalam pandangan sendiri kita mengenal ada 2 terminologi yang serupa dengan pengertian hibah antara lain Umra dan Ruqba.

Pengertian  Hibah

Hibah berasal dari kata dan merupakan masdar dari wahaba bermakna pemberian. Secara terminologi, hibah adalah pemilikan harta dengan akad tanpa mengharapkan pengganti tertentu pada masa hidup. Dan hibah itu diungkapkan secara umum bagi sesuatu yang dihibahkan dan diungkapkan secara mutlak yang lebih umum dari itu.

Adapun definisi hibah menurut pandangan imam empat mazhab yaitu:

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hibah adalah memberikan suatu benda tanpa menjanjikan imbalan seketika. Mazhab Hanafi memberikan definisi yang lebih rinci, yaitu pemilikan harta dari seorang terhadap orang lain yang mengakibatkan orang yang diberi boleh melakukan tindakan hukum terhadap harta itu ketika masih hidup dan tanpa mengharap imbalan.

Mazhab Maliki berpendapat bahwa hibah adalah memberikan suatu barang milik sendiri tanpa mengharap suatu imbalan kepada orang yang diberi.

Mazhab Syafi’i mendefinisikan hibah secara singkat, yaitu memberikan barang milik sendiri secara sadar sewaktu hidup.

Mazhab Hambali berpendapat bahwa hibah adalah pemberian milik yang dilakukan oleh orang dewasa yang pandai yang berhak menggunakan sejumlah harta yang diketahui atau tidak diketahui namun sulit mengetahuinya, harta tersebut memang ada, dapat diserahkan dalam kondisi tidak wajib dalam keadaan masih hidup dan tanpa imbalan.

memberi 2Bkado 2Bteman - Pengertian Lengkap Hibah, Umra dan Ruqba

Macam Macam Hibah

Adapun macam hibah ada dua yaitu hibah mu’abbad dan hibah mu’aqqat.

Hibah Mu’abbad adalah kepemilikan penerima hibah terhadap barang hibah yang diterimanya. Bersifat selamanya atau sepanjang masa. Hibah dalam kategori ini tidak bersyarat, barang sepenuhnya menjadi milik mauhublah. Sehingga dia mampu melakukan tindakan hukum pada barang tersebut tanpa ada batasan waktu.
Hibah Mu’aqqat adalah hibah  yang dibatasi karena ada syarat-syarat tertentu dari pemberi hibah berkaitan dengan tempo atau waktu. Harta yang dihibahkan biasanya hanya berupa manfaat, sehingga penerima hibah tidak mempunyai hak milik sepenuhnya untuk melakukan tindakan hukum.

Pengertian Umra dan Ruqba

Pada dasarnya Umra dan Ruqba merupakan pengertian turunan atau derivasi dari Hibah Mu’aqqat atau hibah yang dibatasi syarat tertentu berkaitan tempo dan  waktu.

Umra adalah pemberian barang kepada seseorang dengan ketentuan apabila yang diberi itu mati lebih dahulu, maka barang itu harus dikembalikan kepada yang memberi. Sebaliknya apabila yang memberi itu mati lebih dahulu, maka barang itu tetap menjadi milik yang diberi.

Rasulullah SAW bersabda :

العمرة لمن وهبت له { متفق عليه }

Artinya : Umra menjadi milik orang yang diberi.

Dalam Riwayat Muslim : Jagalah hartamu dan janganlah menghamburkannya, karena barangsiapa ber-umra maka ia menjadi milik orang yang diberi umra selama ia hidup dan mati, dan menjadi milik keturunannya.

Ruqba adalah pemberian kepada seseorang hanya untuk selama hidup yang memberi dan yang diberi seperti misalnya :

“Rumah ini untukmu, secara raqabi (saling menunggu kematian, jika pemberi yang meninggal lebih dahulu, maka barang tersebut menjadi miliknya. Sebaliknya, jika penerima yang meninggal dunia lebih dahulu maka barang tersebut kembali kepada pemilik awal )”.

 Ijab yang seperti ini hakikatnya adalah pinjaman.

عن ابن عمر وابن عباس قال : قال رسول الله ص م : لا يحل لرجل ان يعطي عطي او ييهب هبة فيرجع فيها الا الوالد فيما يعطى ولده

Dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda : Tidak halal bagi seorang muslim yang memberikan suatu pemberian kemudian dia meminta kembali pemberiannya, selain orang tua dalam suatu pemberian yang dia berikan kepada anaknya. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Arba’ah (Perawi yang empat, yaitu Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah), dan hadist tersebut dinilai shahih oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim.

Ulama kalangan Al Hadawiyyah mengkhususkan pemberian terhadap anak yang masih kecil. Akan tetapi, pengecualian itu juga bertentangan dengan tekstualitas hadist. Sebagian ulama membedakan, seraya berkata : Halal meminta kembali hibah, bukan sedekah, karena sesungguhnya maksud sedekah itu adalah pahala di akhirat. Pembedaan itupun tidak mempengaruhi hukum, ibu sama dengan ayah dalam hukum pemberiannya terhadap anaknya, menurut mayoritas ulama.

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله ص م يقبل الهدية ويثيب عليها

Dari Aisyah r.a, beliau berkata : Rasulullah SAW pernah menerima hadiah dan beliau membalasnya. Diriwayatkan oleh Al Bukhari.

Dalam hadist tersebut terkandung petunjuk bahwa kebiasaan Rasulullah saw. yang sudah berjalan menerima hadiah dan membalas hadiah orang terhadapnya. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah : “Bahwa Rasulullah SAW membalas pemberian orang dengan yang lebih baik dari pemberian orang terhadapnya”.

Hadist tersebut dijadikan dalil kewajiban membalas hadiah karena kebiasaan Rasululluah saw. yang terus menerus itu menetapkan kewajiban membalas hadiah orang itu. Hanya saja dengan hadist itu tidak dapat sepenuhnya dijadikan dalil atas kewajiban pembalasan hadiah orang sebab menurut kata orang bahwa perbuatan Rasulullah saw. yang terus menerus karena dorongan akhlaknya yang mulia, bukan menunjukkan wajibnya.

Syari’at Islam adat kebiasaan membedakan antara hibah dan jual beli. Apa saja yang harus ada penggantinnya diungkapkan secara mutlak oleh kata “jual – beli” Berbeda halnya hibah, karena hibah itu adalah pemberian tanpa mengharapkan ganti dari yang diberi. Ada orang berkata : Bahwa seakan – akan orang yang membolehkan pembalasan hibah itu, menjadikan kebiasaan dalam hibah itu sama dengan syarat, yaitu pembalasannya dengan yang sama.

Di antara pemberian yang tidak boleh diminta kembali secara mutlak ialah sedekah yang diharapkan pahala di akhirat kelak. Menurut saya : Ini tentang penarikan kembali hibah. Mengenai pembeliannya dan sesuai dengan maksud hadist ini, maka menurut zohirnya bahwa larangan pembeliannya itu hanya untuk penyucian. Yang haram itu hanyalah permintaannya kembali. Mungkin juga tidak ada perbedaan antara keduannya, sama – sama larangan yang pada dasarnya untuk mengharamkan (menunjukan haram).

Dari Abu Harairah RA dari Nabi SAW bersabda : تهادوا تهابوا

Saling berhadiah kamu sekalian, niscaya kamu akan saling mencintai. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam “Al Adabul Mufrad, dan diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad yang bagus.

Demikian sekilas Pengertian Hibah, Umra dan Ruqba. Semoga bermanfaat.

Silahkan berkunjung ke laman sosial kami  likehistory2 - Pengertian Lengkap Hibah, Umra dan Ruqba   follow us on twitter - Pengertian Lengkap Hibah, Umra dan Ruqba

Facebook Comments
x

Cek Juga

Pengertian dan Hukum Menimbun Barang

Pengertian dan Hukum Menimbun Barang

Pengertian Menimbun Barang Menimbun barang komoditi kadang terdengar beritanya dinegara kita, apalagi jika menjelang hari ...