Breaking News
Home / Ulumuddin / Kisah Islam / Kisah Perang Khaibar

Kisah Perang Khaibar

Sejarah Perang Khaibar

Khaibar merupakan salah satu tempat yang terkenal lainnya dalam kehidupan Rasulullah SAW dan sejarah dakwah Islam. Sejarawan maupun perawi selalu menceritakan tempat dengan mengaitkan perang. Terkadang juga dijelaskan mengenai sejarah dan perjalanan kaum Yahudi  ke Hijaz.

Pada tahun 4 Hijriah, Rasulullah SAW menyerang bani nadhir dan mengusir mereka dari Madinah. Diantara mereka ada juga yang ,melarikan diri ke Syam dan ada juga yang melarikan diri Khaibar yang pada saat itu merupakan benteng pertahanan terkuat bagi bangsa Yahudi di Semenanjung Arab.

Pada tahun ke-5 hijriah, Rasulullah SAW menyerang bani Quraidzah. Mereka ini termasuk orang orang yang mengumpulkan golongan kafir dari Quraisy untuk melawan kaum muslimin di Madinah hingga menyebabkan pecahnya perang khandaq.

Orang orang Yahudi mengira mereka aman berlindung dibalik benteng Khaibar. Rasulullah SAW sudah memperkirakan hal ini, maka Rasulullah bermaksud untuk menyerang Khaibar yang menjadi pusat pertahanan bangsa Yahudi yang diantaranya berasal dari sisa sisa kabilah qainuqa’ dan bani nadhir.

Persiapan Perang Khaibar

KhaibarPerang khaibar dipersiapkan pada tahun ke-7 hijriah. Rasulullah memerintahkan sahabat untuk bersiap siap dan memastikan kepada mereka bahwa yang pergi bersama beliau adalah yang benar benar ingin berjihad. Rasulullah SAW pun pergi menuju khaibar bersama 1400 pasukan musliminm yang telah  bersama sama saat di Hudaibiyah.

Orang orang yahudi tidak mengira bahwa Rasulullah SAW akan menyerang sebab mereka sangat kuat, jumlah mereka banyak, dan memiliki persenjataan yang hebat. Akan tetapi Rasulullah SAW berhasil masuk kewilayah mereka pada malam hari.

Begitu pagi menjelang seperti biasa mereka bersiap siap melakukan aktifitas, namun tiba tiba mereka dikejutkan oleh serombongan kaum muslimin yang sudah berjaga jaga dihadapan mereka. Melihat hal ini mereka langsung lari tunggang langgang.

Pasukan muslimin dibawah komando Rasulullah SAW berdiri didepan benteng khaibar dan siap melakukan pertempuran, pada saat itu didalam benteng telah berlangsung musyawarah antara para pemimpin Yahudi guna menentukan jalan keluar. Salam bin Misykam, pemimpin mereka menegaskan pentingnya melaksanakan rencana dengan memperhatikan dua hal : pertama, sembunyikan seluruh harta benda dan anak anak mereka yang tidak mampu berperang di Benteng Al-Wathih dan As-Salalim serta sembunyikan persenjataan di Benteng Na’im. Kedua, tentara yahudi khaibar diperintahkan untuk masuk ke benteng Nathah yang merupakan benteng terkuat mereka. Dari dalam benteng Salam bin Misykam menyemangati pasukan mereka bertempur.

Pada saat itu pasukan muslim yang terluka sebanyak 50 orang sedangkan Salam bin Misykam tewas dalam pertempuran itu. Selanjutnya kepempinan yahudi digantikan oleh al-Harits bin Abu Zainab. Benteng pertama yang dikuasai pasukan muslim adalah benteng Na’im disusul kemudian benteng lainnya. Adapun benteng terakhir yang ditaklukkan adalah benteng Az-Zubair yang menyebabkan terputusnya suplai logistik bagi penduduk disana sehingga wilayah tersebut mudah dikuasai. Sedangkan benteng lainnya yaitu benteng al-Watih dan as-Salalim mampu menahan gempuran pasukan muslim karena memiliki bangunan yang kokoh.

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Shafiyah

Berdasarkan ijmak, nama lengkap istri Rasulullah tersebut adalah Shafiyah binti Huyay bin Akhtab, nasabnya berhubungan dengan Harun saudara Musa as. Ibunya bernama Barrah binti Syamwal atau Samuel al-Qarazhiah. Ketika menjadi tawanan perang khaibar, usia shafiyah belum mencapai 17 tahun namun telah menikah dua kali. Pertama dengan penyair dan pejuang kaumnya yang bernama Salam bin Misykam al-Qarazhi, setelah itu ia menikah dengan Kinanah ibnu ar-Rabi’ bin Abu al-Haqiq an-Nadhari pemilik benteng Al-Qamush.

Ketika Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh Kinanah ibnu ar-Rabi’ karena telah menyembunyikan harta dan gudang gudangnya dan tidak mau melaporkannya, perempuan di benteng Al-Qamush lantas dijadikan tawanan, salah seorang diantaranya adalah Shafiyah istri Kinanah, dan putri paman shafiyah. Diriwayatkan oleh sahabat Anas Ra bahwa ketika Rasulullah SAW hendak mengambil Shafiyah bertanya dahulu, “Apakah kamu mau denganku?” Shafiyah lantas menjawab, Wahai Rasulullah, sungguh aku telah mengharapkan hal itu sejak aku masih musyrik. Lantas bagaimana Allah memungkinkanku untuk itu dalam Islam?, lalu Nabi SAW memerdekakan dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar.

Begitu tiba di ash-Shaba’ yang sudah jauh  dari khaibar, pagi harinya Rasulullah SAW menyelenggarakan walimatul ‘urs ditempat itu juga, beliau berkata : “barang siapa yang mempunyai sesuatu, bawalah kesini.”  Beliau membentangkan jubah dan beberapa orang datang membawa kurma serta minyak samin. Terwujudlah pesta pernikahan Rasulullah SAW.

 

Sumber : Ensiklopedi Situs situ Islam dalam Al-Qur’an dan Kehidupan Rasulullah SAW

Facebook Comments

Check Also

ali bin abi thalib

Ali Bin Abi Thalib, Biografi dan Kisah Sejarahnya

Biografi Khalifah Ali Bin Abi Thalib RA. Ali bin Abi Thalib lahir di Mekah, 603-Kufah, …