Breaking News
Home / Ulumuddin / Kisah Islam / Latar Belakang Dan Isi Perjanjian Hudaibiyah

Latar Belakang Dan Isi Perjanjian Hudaibiyah

Latar Belakang Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah  merupakan kisah nabi muhammad saw pada saat telah menetapkan dasar toleransi dalam hubungan-hubungan beliau dengan kaum musyrikin, baik dalam naskah-naskah perjanjian, atau dimedan peperangan.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqoidah, perhujung tahun keenam Hijriyah. Sebabnya karena Nabi saw mengumumkan kepada kaum Muslimin keiinginannya untuk berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini disambut oleh sekitar 1400 orang sahabat dari kaum Muhajirin dan Anshar . Nabi saw berihram untuk umrah ini ditengah perjalanan dan membawa serta binatang-binatang korban (al-Hadyu) supaya diketahui oleh orang-orang bahwa Nabi saw keluar bukan untuk bermaksud perang tetapi semata-mata untuk ziarah ke Baitullah, menunaikan ibadah umrah.

Tatkala sampai di Dzul Hulaifah Rasulullah saw mengutus seorang intelnya dari suku Khuza‘ah, Basyar bin Sofyan, untuk mencari berita mengenai penduduk Mekkah. Sementara itu Rasulullah saw melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ghadir al Asyathah. Dan, di tempat itulah intel yang diutus oleh Rasulullah saw tersebut dating menyampaikan laporan kepada Nabi saw :“Bahwa orang-orang Quraisy telah mengumpulkan bala tentara, termasuk kaum Ahabisy (orang-orang yang berada di bawah pengaruh Quraisy) untuk memerangi dan menghalau engkau dari Baitullah.“ Setelah mendengar laporan ini Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya :“Bagaimana pendapat kalian?“ Abu Bakar ra menyampaikan pendapatnya :“Wahai Rasulullah saw , engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah, bukan untuk membunuh seseorang atau memerangi seseorang. Berangkatlah terus! Jika ada orang yang menghalangi kita maka kita akan memeranginya.“ Nabi saw bersabda :“Berangkatlah dengan nama Allah.“ Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat :“Siapakah diantara kalian yang sanggup menemukan jalan untuk kita lalui (ke Mekkah) selain jalan yang biasa kita lewati?“ Seorang dari Bani Aslam menyatakan kesanggupannya :“ Saya wahai Rasulullah.“ Lalu ia bertindak sebagai perintis jalan, naik turun lereng-lereng terjal dan batu-batu tajam. Rasulullah saw dan para sahabatnya menyusuri jalan terjal ini hingga onta Rasulullah saw berhenti di Tsaniyatil Mirar (sebuah jalan ke arah Hudaibiyah).

Melihat onta Rasulullah saw berhenti, para sahabat terperanjat lalu berseru :“Si Qushwa mogok“ Rasulullah saw menyahut :“Ia tidak mogok, ia tidak berwatak mogok, ia dihentikan oleh Allah swt yang dahulu menghentikan pasukan Gajah.“ Kemudian Rasulullah saw bersabda :“Demi Allah, jika mereka meminta kepadaku satu langkah (persyaratan) yang akan menghormati tanah haram, pasti akan aku kabulkan. Lalu Nabi saw menghardik ontanya sehingga bangun dan berjalan kembali sampai turun ke ujung Hudaibiya di dekat parit yang tidak banyak airnya. Para sahabat lalu turun dan meminum air parit itu hingga kering. Kemudian orang-orang mengadu kepada Rasulullah saw. Setelah mendengar pengaduan ini Rasulullah saw langsung mencabut anak panah lalu memerintahkan mereka agar meletakkannya di parit itu. Demi Allah tiba-tiba air memancar memenuhi parit.

perjanian hudaibiyahKetika para sahabat sedang dalam kesibukkan (mengurus air ini) tiba-tiba datanglah Badil bin Warqa‘ al Khuza‘I bersama beberapa orang lalu berkata :“Saya baru saja meninggalkan Ka‘ab bin Lu‘ay serta Amir bin Lu‘ay (orang-orang Quraisy) sedang menuju ke lembah Hudaibiyah dengan membawa onta-onta perah mereka akan memerangi dan menghalangi perjalanan menuju Baitul Haram“. Rasulullah saw menjawab : „Kami datang hana untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang uraisy telah memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah aku siap memerangi mereka sampai orang-orang yang ada di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan menyelesaikan urusan-Nya.“. Jawab Badil:“Apa yang kamu katakan akan aku sampaikan kepada mereka.“ Kemudian Badil berangkat dan menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Rasulullah saw kepada orang-orang Quraisy. Setelah mendengar laporan Badil, Urwah bin Mas‘ud berdiri menawarkan diri kepada orang-orang Musyrikin untuk membicarakan rincian ucapan Rasulullah saw yang telah disampaikan kepada Badil bin Warqa‘.

Urwah bin Mas‘ud berangkat menemui Rasulullah saw. Kepada Urwah Rasulullah saw menegaskan apa yang telah disampaikannya kepada Badil. Jawab Urwah :“Apakah engkau kira orang-orang Arab akan membiarkan sanak-kadangnya binasa di tanganmu?“ Jika engkau teruskan rencanamu sungguh orang-orang Quraisy tidak akan lari dan membiarkanmu.“ Mendengar perkataan Urwah ini Abu Bakar yang berada di belakang Rasulullah saw menyahut :“hai Urwah, isaplah batu berhalamu si Latta! Kau kira kami akan lari meninggalkan dia ? “Urwah kemudian melanjutkan percakapannya dengan Nabi saw. Sambil berbicara ia menyelonongkan tangan hendak memegang jenggot Rasulullah saw, tetapi segera ditepis oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah yang sejak tadi berdiri persis di belakang Rasulullah saw sambil membawa pedang, seraya berkata :“Jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah saw sebelum kutampar mukamu!“ Sambil mengangkat kepala, Urwah bertanya :“Siapakah dia?“ Nabi saw menjawab :“Al-Mughirah in Syu‘bah.“ Lalu Urwah berkata :“Pngkhianat kau! Baru saja kemarin aku bersihkan nama baikmu dari kejahatan yang kau lakukan.“.

Kemudian Urwah memandangi para sahabat Nabi saw dengan kedua matanya. Ia berkata :“Demi Allah, tidaklah Rasulullah saw meludah kecuali ludah itu jatuh ke telapak tangan seorang di antara mereka lalu mengucapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila dia (Nabi saw) memerintahkan sesuatu kepata mereka, mereka berebut untuk melakukannya. Apabila dia berwudlu, mereka berebut seperti orang yang hendak bertengkar untuk mendapatkan air sisa wudlunya. Apabila mereka berbicara di hadapannya, mereka berbicara dengan menundukkan kepala dan merendahkan suara
demi menghormatinya.“

Urwah kemudian kembali ke Mekkah melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah saw, ia berkata : „Wahai kaum! Demi Allah, saya pernah menjadi tamu para raja, kaisar, Kisra dan Najasyi. Tetapi demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh para pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad kepada Muhammad saw. Sesungguhnya dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian, maka terimalah!“

Isi Perjanjian Hudaibiyah

Setelah itu mereka mengutus Suhail bin Amir sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian perdamaian antara mereka dengan kaum muslimin. Setelah itu duduk di hadapan Nabi saw, Suhail berkata :“Silahkan! Tuliskan satu perjanjian antara kami dan kalian!. Kemudian Nabi saw memanggil penulisnya (menurut riwayat Muslim, penulis yang dimaksud ialah Ali ra.) dan bersabda :“Tulislah :Bismillahirrahmanirahiim“. Suhail menukas :“Demi Allah, kami tidak tahu apa itu“Ar-Rahman“, tulislah Bismillahumma“. Kemudian kaum Muslimin berkata :“Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali „Bismillahirrahmanirrahiim“. Lalu Nabi saw bersabda :“Tulislah Bismikallahumma, ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah“. Suhail menolak dan berkata :“Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangi kami. Tetapi tulislah „Muhammad bin Abdullah“. Kemudian Rasulullah saw bersabda :“Demi Allah, aku adalah Rasul Allah seandainya kalian mendustakan aku! … Tulislah Muhammad bin Abdullah.“

isi perjanjian hudaibiyahDi dalam riwayat Muslim disebutkan :Nabi saw memerintahkan Ali agar menghapusnya, lalu Ali berkata :“Demi Allah aku tidak mau menghapusnya.“ Kemudian Rasulullah saw bersabda :“Tunjukkanlah kepadaku mana tempatnya.“ Lalu Ali menunjukannya dan Rasulullah saw pun menghapusnya sendiri. Selanjutnya Nabi saw bersabda kepadanya :“Kalian (orang-orang musyrik) harus membiarkan kami melaksanakan Thawaf di Baitullah“. Suhail berkata :“Demi Allah, supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapatakan tekanan dari kalian, akan tetapi engkau boleh Thawaf pada tahun depan dan kaum muslimin tidak boleh membawa senjata kecuali pedang di dalam sarungnya.“ Kemudian Ali menulisnya. Selanjutnya Suhail berkata : „Jika ada seorang dari kami yang datang kepada engkau untuk masuk Islam maka hendaknya engkau kembalikan pada kami.“ Jawab kaum Muslimin serempak :“Subhanallah, bagaimana mungkin seorang yang telah beriman akan dikembalikan pada kaum Musyrikin?“, Mereka menoleh kepada Rasulullah saw, seraya bertanya :“Apakah kita akan menulis butir ini wahai Rasulullah saw?“ Jawab Nabi saw :“Ya, Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barangsiapa di antara kalian dating kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya.“ Perjanjian perdamaian dengan syarat-syarat tersebut menurut riwayat Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa‘Ad dan Al-Hakim berlaku selama sepuluh tahun. Selama itu tidak boleh dilanggar dan dikhianati. Siapa yang ingin bersekutu dengan Quraisy, mereka bebas melakukannya. Maka suku Khuza‘ah segera mengumumkan persekutuannya dengan Rasulullah saw, sementara Banu Bakar memilih bersekutu dengan suku Quraisy.

Demikian tulisan mengenai Latar Belakang Dan Isi  Perjanjian Hudaibiyah. Semoga bermanfaat.

Silahkan berkunjung ke laman sosial kami  likehistory2   follow-us-on-twitter

#Referensi Sirah Syekh Ramadhan Al-Buthi

 

 

Facebook Comments

Check Also

Hukum Memakai Rambut Palsu atau Wig

Perkembangan sosial tentu diikuti model gaya hidup yang semakin berkembang pula, berikut pula cara berpenampilan. …