Home / Ulumuddin / Diskursus / Sejarah dan Ciri Fundamentalisme

Sejarah dan Ciri Fundamentalisme

Sejarah dan Ciri Fundamentalisme

fundamentalisme

Fundamentalisme adalah suatu gerakan yang ingin kembali kepada dasar-dasar agama secara “penuh” dan “literal” bebas dari kompromi,penjinakan reinterpretasi. Istilah ini menurut Fredrick M. Denny, seorang agamawan nasrani muncul pada awal abad ini (1920 oleh George marsden) sebagai kerangka kerja kaum protestan konservatif Amerika untuk menunjukkan ciri suatu doktrin yang berdasarkan kitab Injil yang meliputi 5 point ( kelahiran Yesus dari sang perawan, kebangkitan fisiknya, kitab injil yang tanpa salah, penebusan dosa subtansial dan kedatangan Kristus yang kedua ). Point yang sejalan dengan Islam hanyalah yang menyangkut ketidaksalahan kitab suci Injil yang dalam Islam adalah Alquran.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa fundamentalisme merupakan suatu kondisi kejiwaan dalam proses pembaharuan yang bersifat internal dalam bentuk pemurnian kembali ajaran agama dari segala penyelewengan dan interpretasi dari teks dan kontesnya wahyu serta semua simbol dan ciri-ciri luar yang harus diwujudkan dalam segala konteks zaman.

Ciri ciri Fundamentalisme

Ciri-ciri fundamentalisme, baik di lingkungan Nasrani maupun orang Islam, bila dilihat dari konsepsi doktrin yang dimilikinya, terdapat persamaan dalam hal berikut :

  1. Faham Fundamentalisme memberikan penekanan kepada interpretasi literal (teks) secara harfiah yang terdapat pada kitab suci dan tidak mengenal adanya interprestasi kontekstual, sesuai dengan perkembangan zaman.
  2. Fundamentalisme menciptakan sikap-sikap yang mengarah kepada fanatisme, ekskluisifme, tidak toleran dan militan serta ada yang lebih jelas sifat radikalnya.
  3. Faham Fundamentalisme menekankan geraknya  sebagai gerakan pemurnian terhadap ajaran agama yang telah dinodai oleh faham-faham modern, seperti; modernism, humanism, liberalisme dan semacamnya.
  4. Kaum Fundamentalisme menganggap dirinya sebagai penafsir agama yang benar, sedangkan penafsir agama lainnya dianggap sesat dan menyeleweng yang harus disingkirkan demi kemurnian ajaran agama.

Dalam Islam gerakan fundamentalisme dapat dibagi dua tipologi yaitu : Pra modern, yang muncul disebabkan situasi dan kondisi tertentu dikalangan umat Islam dengan prototype gerakan Wahabiah disemenanjung Arabiah dibawah kepemimpinan Muhammad Ibn Abdul Wahab (1703-1792), dan tipe fundamentalisme kontemporer yang bangkit sebagai reaksi terhadap penetrasi sistem dan nilai sosial budaya, politik, ekonomi barat, baik secara kontak langsung maupun melalui pemikir muslim seperti kelompok modernis, westernis, sekularis atau rejim pemerintahan muslim yang probarat dengan protipe gerakan Ihwanul Muslimin (IM) yang didirikan pada tahun 1928 oleh Hasan Al-Banna yang wafat 20 Februari 1949 melalui tragedi pembunuhan oleh seorang yang tak dikenal. kemudian ia digantikan oleh Sayyid Qutub dengan salah satu konsepsi yang dikenal Jahiliah Modern.

Fundamentalisme Islam mulai popular didunia barat setelah muncul revolusi Islam Iran dibawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini yang merupakan muslim Syi’ah radikal dan fanatik pada tahun 1979. Dan setelah revolusi Islam Iran ini, istilah fundamentalisme Islam digunakan untuk menggeneralisasi berbagai gerakan Islam yang muncul dalam gelombang kurun waktu tertentu dalam dasawarsa terakhir sering disebut dengan kebangkitan Islam (Islamic Revivalism).

Gejala kebangkitan Islam dalam berbagai bentuk intensifikasi penghayatan dan pengalaman Islam, yang diikuti dengan pencairan dan pembebasan kembali nilai-nilai islam dalam berbagai aspek kehidupan, dapat dalam bentuk kebangkitan Islam yang lebih berorientasi kedalam ( inward oriented ) yang bersifat individual, berupa peningkatan komitmen pribadi terhadap Islam yang lebih banyak mengandung aspek esoteris, dan dapat pula dalam bentuk kebangkitan yang berorientasi keluar (outward oriented) dengan komitmen yang kuat tidak hanya mentransformasi kehidupan individual, tetapi juga sekaligus kehidupan sosial kemasyarakatan yang bersifat eksoteris yang sangat menekankan batas halal dan haram (boleh dan terlarang) berdasarkan syariat Islam.

Dalam Islam terdapat kalangan yang tidak setuju penggunaan istilah fundamentalisme untuk menyebut gejala intensifikasi penghayatan dan pengamalan serta membudayakan ajaran Islam dalam rangka kebangkitan Islam dengan alasan istilah fundamentalisme berkaitan dengan kebangkitan gereja protestan terutama yang ada di Amerika (1920).

Fundamentalisme di barat muncul melalui proses yang panjang. Dahulu agama Kristen dengan institusi gerejanya pernah menguasai seluruh segi kehidupan manusia Eropa. Kaisar Romawi sebagai pelindung agama Kristen. Paus sebagai kepala gereja berada diatas Kaisar, sehingga atas perintah Paus, maka raja-raja Spanyol dan Fortugal menjarah dipelosok dunia dengan menjadikan daerah-daerah yang dikuasai sebagai daerah Kristen (pendudukan Fortugal tehadap Malaka tahun 1511, Ternate 1522 dan pendudukan Spanyol terhadap Tidore).

Peranan agama sebesar itu berbalik dalam posisi dianggap sebagai candu masyarakat setelah terjadi gerakan besar di Eropa. Gerakan ini dimulai dengan munculnya fase Renaisance yang ingin menemukan kembali warisan budaya lama yang berlatar belakang Yunani dengan mengungkapkan kemampuan berfikir manusia.

Kemudian muncul gerakan Humanisme yang menekankan kemampuan akal menemukan kebenaran, sementara aliran reformasi, muncul pula yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang bertanggung jawab kepada Allah SWT. Bukan kepada Gereja. Lalu disusul munculnya masa Aufklarung / pencerahan, yang merupakan kelanjutan dari Humanisme yang menganggap kebenaran yang terjadi ialah yang di dapat dimengerti oleh akal manusia.

Dari gerakan besar tadi mengakibatkan kemajuan Ilmu pengetahuan yang sangat pesat pada abad XIX, menyebabkan lahirnya revolusi industri yang membawa perubahan radikal, dan mengakibatkan agama tidak menjadi penentu lagi dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sehingga manusia tidak mendasarkan diri pada agama untuk penentuan nilai, tetapi pada kebutuhan material sebagai akibat runtuhnya kekuasaan Gereja dan Ilmu Pengetahuan keluar sebagai pemenang.

Dari kemenangan Ilmu Pengetahuan, menimbulkan reaksi dari kalangan kaum agama yang ingin tetap jernih keyakinannya dan supermasi agama tetap dipertahankan dalam suatu sikap yang dikenal dengan fundamentalisme.

Demikian sekilas artikel mengenai Sejarah dan Ciri Fundamentalisme, semoga bermanfaat.

====

Silahkan berkunjung ke laman sosial kami  likehistory2  atau follow-us-on-twitter

====

 

 

 

Facebook Comments
x

Check Also

Pengertian dan Hukum Operasi Mengganti Kelamin

Pengertian dan Hukum Operasi Mengganti Kelamin

Pengertian Operasi Mengganti Kelamin Operasi ganti kelamin adalah suatu tindakan atau operasi merekonstruksi kembali, dimana ...