Home / Ulumuddin / Fiqh / Syakhsiyah / Shalat Khauf / Shalat Harby : Shalat dalam Keadaan Perang

Shalat Khauf / Shalat Harby : Shalat dalam Keadaan Perang

Shalat Khauf /  Shalat Harby : Shalat dalam Keadaan Perang

Shalat Khauf

Shalat Khauf /  Shalat Harby : Shalat dalam Keadaan Perang. Shalat khauf / shalat harby adalah shalat dalam keadaan bahaya atau takut (suasana perang). Mengerjakan shalat adalah kewajiban untuk dilaksanakan setiap hari dalam Islam. Tidak terhenti karena melakukan perjalanan, hijrah, bekerja, atau disibukkan oleh kesibukan yang padat. Akan tetapi pelaksanaan shalat dimudahkan jika dalam keadaan jihad seperti dengan melaksanakan shalat khauf.

Agama mengkhawatirkan keadaan manusia pada situasi tersebut dengan memperbolehkan jika dalam keadaan perjalanan dan keadaan takut dari serangan musuh untuk meringkas / qashar shalat yang memiliki jumlah 4 rakaat, atau melaksanakan shalat lebih sedikit dari shalat dhuhur, ashar, isya sebanyak 2 rakaat sebagai pengganti  4 rakaat.

Sebagaimana Firman Allah dalam Surah An-Nisaa ayat 101 :

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (١٠١)

Artinya : dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Menurut Pendapat jumhur arti qashar di sini Ialah: sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, Yaitu di waktu bepergian dalam Keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun-rukun dari yang 2 rakaat itu, Yaitu di waktu dalam perjalanan dalam Keadaan khauf. dan ada kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam Keadaan khauf di waktu hadhar.

Pada ayat berikutnya dalam surah An-Nisaa ayat 102 menjelaskan shalat khauf / shalat harby :

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (١٠٢)

Artinya :  dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat)[344], Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu[345]], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu[346].

Menurut jumhur mufassirin bila telah selesai serakaat, Maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua. Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi.

Cara shalat khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam Keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, Maka shalat khauf dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.

Cara Melaksanakan Shalat Khauf

Imam Nawawi dalam kitabnya “Syarhu Muslim” menjelaskan bahwa cara Rasulullah melaksanakan shalat khauf bermacam macam baik berdasarkan hari yang berbeda atau berdasarkan situasi dan kondisi yang berbeda pula dengan tujuan kehati-hatian dalam mengerjakan shalat atau memelihara diri dari serangan musuh.

Adapun beberapa cara yang dilakukan dalam melaksanakan shalat khauf :

Cara Shalat Khauf / Harby Pertama, Jika posisi musuh dari arah kiblat

imam shalat khauf mengatur pasukan menjadi dua shaf, shaf pertama dan shaf kedua. Kemudian imam melakukan shalat bersama shaf pertama dan shaf kedua. Mereka bertakbir dan ruku’ bersama. Kemudian imam dan shof pertama melakukan sujud sedang shaf kedua menjaga. Setelah imam dan shaf pertama bangun dari sujudnya, shaf kedua sujud dan iman dan shaf pertama menjaga. Demikain seterusnya mereka saling bergantian menjaga musuh. Kemudian shalat diakhiri dengan memberi salam bersama sama.

Berdasarkan riwayat oleh Jabir bin Abdullah, Suatu ketika aku turut melakukan salat khauf bersama Rasulullah saw. Beliau membagi kami menjadi dua barisan, satu barisan berada di belakang Rasulullah saw. sedang musuh berada di antara kami dan kiblat. Ketika Nabi saw takbir kami semua ikut takbir. Kemudian beliau ruku’, kami semua ikut ruku’. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, kami semua melakukan hal yang sama. Kemudian beliau turun untuk sujud bersama barisan yang berada langsung di belakang beliau. Sementara itu barisan yang terakhir tetap berdiri menjaga musuh. Ketika Nabi saw. selesai sujud, dan barisan yang di belakangnya berdiri, maka barisan yang terakhir tadi turun untuk melakukan sujud lalu mereka berdiri. Lalu barisan yang di belakang maju, dan barisan yang di depan mundur. Kemudian Nabi saw. ruku dan kami semua ikut ruku. Kemudian Nabi mengangkat kepalanya, kami pun mengikutinya. Sementara barisan yang tadi berada di belakang ikut turun sujud bersama beliau, barisan yang satunya lagi tetap berdiri menjaga musuh. Ketika Nabi saw. selesai sujud bersama barisan yang tepat di belakangnya, maka barisan yang di terakhir turun untuk sujud. Setelah mereka selesai sujud, Nabi saw. mengucapkan salam dan kami semua ikut salam. Jabir berkata: Seperti yang biasa dilakukan oleh para pasukan pengawal terhadap para pemimpin mereka. (HR. Muslim)

Cara Shalat Khauf / Shalat Harby Kedua, Jika Posisi Musuh bukan dari arah kiblat

Imam shalat mengatur pasukan dan membagi menjadi dua barisan, satu barisan melaksanakan shalat bersama imam dan satu barisan lagi menjaga musuh. Setelah barisan pertama selesai shalat maka barisan kedua melakukan shalatnya bersama imam. dan penjagaan dilakukan oleh barisan kedua yang telah selesai shalat. Jadi dalam hal ini imam bershalat dua kali, shalat pertama dengan barisan pertama dan shalat kedua dengan barisan kedua. Adapun shalat yang terakhir bagi imam shalat adalah sunnat atau tidak dianggap qashar karena mengulangi shalat.

Cara Shalat Khauf / Shalat harby  Ketiga, jika keadaan sangat menakutkan.

Jika dalam keadaan seperti tidak melaksanakan shalat berjamaah, akan tetapi pasukan melaksanakan shalat pada keadaan dan kondisi yang mudah baginya, sebagaimana halnya jika memungkinkan menghadap kiblat atau tidak. Dalam keadaan ini pasukan diperbolehkan meringkas shalat khauf / shalat harby dengan cara menganggukkan kepala sebagai pengganti ruku’ dan sujud sebagaimana melaksanakan shalat dalam kendaraan

Demikian artikel mengenai Shalat Khauf /  Shalat Harby : Shalat dalam Keadaan Perang, semoga bermanfaat.

====

silahkan like FB Fanspage ponpesalbadar dan follow twitter ponpesalbadar

====

Facebook Comments
x

Check Also

Pengertian dan Hukum Operasi Mengganti Kelamin

Pengertian dan Hukum Operasi Mengganti Kelamin

Pengertian Operasi Mengganti Kelamin Operasi ganti kelamin adalah suatu tindakan atau operasi merekonstruksi kembali, dimana ...